Pesan Perdamaian Lingkungan Hidup Gusdurian dan Nurul Falah Tanggamus

SONY DSC

TANGGAMUS– Jaringan Gusdurian di Lampung bekerja sama dengan Yayasan Nurul Falah Gunung Tiga, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus Lampung mengawali peringatan Hari Perdamaian pada 21 September mendatang dengan seruan perdamaian terhadap lingkungan hidup.

Lembaga itu berkolaborasi menggelar kelas menulis lingkungan hidup atau pelatihan jurnalistik bertema “Berdamai Dengan Lingkungan Hidup. Berdamai Dengan Masa Depan yang Hidup”. Kelas menulis dimulai sejak Rabu hingga Kamis (15-16/9),

Kepala MTs Nurul Falah WD. Fatchurrochman Syam, M. Pd.I, menyatakan, masyarakat daerah tersebut tinggal di desa dengan nama yang mengidentikan pegunungan.

“Nama desa kita Gunung Tiga namun ternyata juga kesusahan air. Keindahan burung dengan kicauan paginya juga tidak terdengar lagi karena rumahnya dihilangkan dengan paksa untuk keperluan industri,” jelasnya, Kamis (16/9).

Berkaitan dengan itu, aktivis Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Lampung itu meminta sekitar 50 pelajar SMK dan MTs Nurul Falah Tanggamus yang menjadi peserta kegiatan berpikir kritis.

“Lalu bagaimana dengan masa depan kita? Bagaimana anak cucu kita kelak? Bagaimana dengan anak cucu kalian? Kalau pohon yang menyimpan air dilenyapkan, mau bagaimana lagi?” kata Ajengan Teater Jabal Tanggamus itu pula.

Output yang diharapkan dari kelas menulis lingkungan hidup dengan narasumber utama Gatot Arifianto, Koordinator The Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Lampung dan aktivis Gusdurian itu adalah buletin diterbitkan tiga bulan sekali.

“Selain itu, saya berharap sekali satu orang siswa bisa menanam satu pohon, ini kaitannya dengan lingkungan hidup,” ujar Fatchurrochman pada kegiatan terselenggara dengan dukungan GP Ansor Waykanan, Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN), SIEJ Lampung dan Yayasan Shuffah Blambangan Umpu itu.

Jaringan Gusdurian di seluruh Indonesia memperingati Hari Perdamaian dengan beragam. Di Lampung, peringatan hari itu dilakukan dengan melakukan kelas menulis lingkungan hidup.

“Gus Dur semasa menjadi presiden sudah mengajak masyarakat untuk gemar menanam pohon, selain berdampak positif bagi lingkungan, pohon seperti jati, mahoni, akasia, sengon yang ditanam juga bisa digunakan untuk keperluan ekonomi. Namun harapan Gus Dur sepertinya belum terealisasi. Wajar bagi kami yang meneladani beliau turun tangan mengingatkan persoalan-persoalan lingkungan hidup yang harus ditangani bersama,” kata Gatot.

Dalam mengajar, anggota AJI Bandar Lampung itu mengajak peserta menemukan sendiri 5 W 1 H dari berita-berita dibagikan panitia, praktek menulis, diskusi dan evaluasi hasil karya. Selain itu, Ketua PC GP Ansor tersebut juga membawa pelajar observasi lapangan untuk wawancara hingga menyaksikan film dokumenter “Samin VS Semen” karya Dandhy D Laksono dan Ucok Parta produksi WatchdoC.

Cahaya Suri Kasnawati pelajar kelas 11 jurusan akutansi menyatakan kegiatan tersebut luar biasa, menarik. “Apa yang tidak saya mengerti akhirnya jadi saya mengerti. Dari tidak bisa membuat berita akhirnya bisa membuat meski sedikit,” ujarnya.

tCahaya menambahkan, dirinya dan kelompoknya ditugaskan wawncara di lapangan mengenai sampah berserakan di lingkungan sekolah. Masih ada siswa buang sampah sembarangan, padahal sudah ada kotak sampah tapi masih saja jahil.

“Dengan adanya kegiatan ini, saya termotivasi mengajak masyarakat untuk mencintai lingkungan hidup. Contoh sederhana buang sampah pada tempatnya, kalau tempat sampah jauh silakan simpan, sesudah itu buang ke tempat sampah,” kata Cahaya. (*)

 

Sumber : http://nulampung.or.id

Tinggalkan Balasan